SISTEM SARAF
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Hewan
mempunyai daya gerak, cepat tanggap terhadap rangsang eksternal, tumbuh
mencapai besar tertentu, serta memerlukan makanan dalam bentuk kompleks. Setiap
individu, baik pada hewan yang uniseluler maupun pada hewan yang multiseluler,
merupakan suatu unit. Hewan berorganisasi, artinya setiap bagian dari
tubuhnya merupakan subordinatedari
individu sebagai keseluruhan, baik sebagai bagian satu sel maupun seluruh sel.
Suatu organisme hidup baik yang uniseluler maupun yang multiseluler dapat
berada sebagai individu terpisah maupun sebagai suatu agregat/kumpulan yang
bebas satu sama lain (koloni). Sebuah koloni hewan dapat terdiri dari hewan
uniseluler atau hewan multiseluler, namun hewan multiseluler bukan sebuah
koloni hewan uniseluler. Walaupun demikian, ada juga sebuah koloni hewan
multiseluler yang karena aktivitas hidupnya bermanifestasikan suatu kesatuan,
maka koloni itu dianggap sebagai suatu organisme.
Sistem koordinasi
merupakan suatu sistem yang mengatur kerja semua sistem organ agar dapat
bekerja secara serasi. Sistem koordinasi bekerja untuk menerima rangsangan,
mengolahnya dan kemudian meneruskannya untuk menanggapi rangsangan tadi. Setiap
rangsangan-rangsangan yang diterima melalui indra, akan diolah di otak. Kemudian
otak akan meneruskan rangsangan tersebut ke organ yang bersangkutan. Setiap
aktivitas yang terjadi di dalam tubuh, baik yang sederhana maupun yang kompleks
merupakan hasil koordinasi yang rumit dan sistematis dari beberapa sistem dalam
tubuh. Sistem koordinasi pada hewan meliputi sistem saraf beserta indra dan
sistem endokrin (hormon). Sistem saraf yang dimiliki oleh hewan berbeda-beda,
semakin tinggi tingkatan hewan semakin kompleks sistem sarafnya.
Sistem saraf dan sistem endokrin
bekerja sama dan berinteraksi dalam mengatur fungsi-fungsi internal tubuh dan
perilaku. Adapun alat indra merupakan reseptor rangsang
dari luar. Namun meskipun terdapat hubungan antara struktur dan
fungsi, sistem saraf dan sistem endokrin sedikit berbeda mengenai pengaturan
waktunya dalam menjalankan fungsi koordinasi. Sebagai contoh, dengan kerumitan
strukturnya, saraf dikhususkan untuk transmisi impuls dengan cepat (sekitar
150m/detik) dan akibatnya, informasi dapat merambat dari otak manusia ke alat
pengindraan atau sebaliknya hanya dalam tempo beberapa milidetik. Sebaliknya,
sistem endokrin memerlukan waktu beberapa menit, jam, atau bahkan hari untuk
bekerja. Hal ini dikarenakan dibutuhkannnya waktu untuk sintesis dan
pengangkutan hormon dalam darah ke organ targetnya.
B.
Rumusan
Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan
masalahnya dan akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimanakah menjelaskan,
menganalisis, mendeskripsikan, dan membandingkan perkembangan system saraf
hewan dan kaitannya dengan kemampuan koordinasi, hubungan fungsional komponen
sistem saraf, mekanisme perambatan rangsangan, gerak sadar dan reflek?
C.
Tujuan
Pembelajaran
Mahasiswa
mampu menganalisis, mendeskripsikan dan membandingkan
:
1. Sistem
Saraf pada Hewan Invertebrata dan Vertebrata dan Kaitannya dengan Kemampuan
Kerja dalam Koordinasi.
2. Kalsifikasi
Sistem Saraf berdasarkan Struktur dan Fungsi.
3. Hubungan
Fungsinal antara Komponen Sistem Saraf
4. Rangkaian
Neuron
5. Mekanisme
Perambatan Rangsangan Gerak Biasa dan Gerak Reflek
6. Konsep
dan Mekanisme Gerak Reflek Monosimpatik, Multisinaptik, Sederhana dan
Dikondisikan
7. Perbedaan
Jalur Kerja Saraf Otonon dengan Saraf Somatik dan Saraf Simpatik dan
Parasimpatik.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Sistem Saraf pada Hewan Invertebrata
dan Vertebrata dan Kaitannya dengan Kemampuan Kerja dalam Koordinasi
1.
Sistem
Saraf pada Hewan Invertebrata
Gambar 1 : Sistem Saraf Invertebrata
a.
Sistem
Saraf pada Hewan Simetri Radial
1) Sistem
Saraf pada Hydra
Organisasi sistem saraf yang paling
sederhana dijumpai pada Hydra, yang terdiri atas sel-sel reseptor-konduktor,
dan sel-sel afektor. Sel-sel konduktor tidak membentuk jalur tunggal, tetapi
saling terjalin membentuk suatu jala saraf yang menyebar ke seuruh tubuh.
Organisasi sistem saraf yang demikian disebut sistem saraf jala atau sistem
saraf difus. Pada sistem saraf jala seperti ini belum ada pusat pengontrol.
Impuls menyebar keseluruh arah melalui sebagian besar serabut (beberapa serabut
hanya satu arah). Impuls menyebar secara lambat dari daerah yang mendapat
rangsang ke daerah yang berdekatan. Makin kuat stimulus, penyebaran impuls
semakin jauh. Reaksi sangat terbatas pada kontraksi lokal. Suatu sistem seperti
ini, yang tidak ada koordinasi terhadap reaksi kompleks, hanya menghasilkan suatu
gerakan yang terbatas (Soewolo, 2000:243).
Hydra mempunyai jaringan saraf
tanpa ganglia atau tidak ada pembedaan antara unsur sistem saraf pusat dan
sistem saraf tepi. Kebanyakan sinapsis dalam jaringan saraf Hydra adalah
sinapsis listrik. Impuls diantarkan pada kedua arah, dan perangsangan pada
titik manapun pada tubuh Hydra akan menyebar dari tempat perangsangan dan
menghasilkan pergerakan di seluruh tubuh (Campbell, 2004:216).
2) Sistem
Saraf pada Ecinodermata
Sistem saraf pada kebanyakan
Ecinodermata mirip dengan sistem saraf ubur-ubur. Pada bintang laut, misalnya,
saraf radial menjulur ke masing-masing lengan dari cincin saraf pusat di
sekeliling cakram oral. Cabang-cabang saraf radial membentuk jaringan kerja
yang saling berkaitan, mirip dengan jaring saraf cnidaria. Sistem ini
mengkoordinasikan pergerakan, tanpa peduli lengan mana yang pertama bergerak
(Campbell, 2004: 216).
Cnidaria, ctenofor, dan banyak
ecinodermata adalah hewan dengan tubuh simetris radial, demikian juga dengan
sistem sarafnya. Sistem saraf yang simetris secara radial cenderung menjadi
tidak tersentralisir. Hal ini tidak berarti terjadi penyederhanaan struktural
atau fungsional, atau bahwa hewan yang simetris radial akan menjadi rintangan
bagi sistem sarafnya. Pergerakan ratusan kaki tabung bintang laut selama
mengambil makanan, misalnya, memerlukan koordinasi saraf yang kompleks
(Campbell, 2004:217).
b.
Sistem
Saraf pada Hewan Simetri Bilateral
Sebagian besar hewan adalah
simetris bilateral dan mempunyai sistem saraf yang diatur secara bilateral
dengan unsur tepi dan unsur pusat. Berkorelasi dengan simetri bilateral dan
radial, hewan itu juga menunjukkan sefalisasi hingga derajat tertentu, yaitu
pemusatan organ, pengambilan makanan, sensor dan struktur neuron pada ujung
interior (kepala), yaitu bagian tubuh yang paling mungkin melakukan kontak
pertama dengan makanan atau stimulus ancaman. Pada sebagian besar kasus, otak
dikepala dan satu atau lebih tali saraf memebentuk sistem saraf pusat. Tali
saraf adalah seberkas saraf tebal yang umumnya mejulur dari otak secara
longitudinal melalui tubuh (Campbell,2004:217).
Cacing pipih mewakili salah satu
garis keturunan filogenetik yang paling tua yang anggotanya mempunyai SSP yang
jelas, yang terdiri atas otak kecil dan dua atau lebih tali saraf longitudinal
(Campbell,2004:217).
Para ahli biologi sepakat memberi
nama “otak” kepada pembengkakan kecil pada ujung anterior korda longitudinal.
Pada cacing pipih yang lebih maju ditandai dengan adanya suatu perkembangan
otak yang lebih baik (Soewolo,2000:245).
Sebagian besar invertebrata
memperlihatkan derajat sentralisasi dan sefalisasi sistem saraf yang lebih
besar. Contohnya annnelida dan arthropoda sudah terlihat adanya perkembangan
sistem saraf pusat yang lebih maju, yang berupa sepasang korda longitudinal
pada daerah ventral tubuhnya. Dalam korda longitudinal hewan ini, badan-badan
sel saraf membentuk masa yang disebut ganglion, sepasang pada setiap
segmen,yang dihubungkan oleh berkas serabut yang berjalan longitudianal
danhorizontal, sehingga memberikan gambaran seperti tangga tali. Ganglia yang
terletak dalam kepala disebut sebagai otak. Otak ini kecil, namun bila
dibandingkan dengan ganglia segmen, nampak lebih besar dan lebih dominan,
tetapi terbatas bila dibandingkan dengan otak vertebrata (Soewolo,2000:245).
Mollusca adalah contoh yang bagus
untuk menjelaskan bagaimana kerumitan sistem saraf berkorelasi dengan peranan
seekor hewan (relung) dalam lingkungannya. Mollusca sesil atau yang bergerak
lamban seperti khiton dan remis mempunyai sedikit sefalisasi atau bahkan tidak
ada sama sekali, dan juga organ indra yang relatif sederhana. Dengan perbedaan
yang tajam sefalopoda mempunyai sistem saraf yang paling canggih diantara
invertebrata, yang menandingi beberapa sistem saraf vertebrata. Otot yang besar
pada cumi-cumi atau gurita yang disertai dengan mata pembentuk citra yang besar
dan penghantaran yang cepat disepanjang akson raksasa berkorelasi positif
dengan kehidupan pemangsa yang aktif pada hewan ini. Dalam percobaan
laboratorium, gurita belajar untuk membedakan pola-pola visual dan melakukan
tugas kompleks.
2.
Sistem
Saraf pada Vertebrata
a.
Sistem
Saraf Pusat Dan Tersefalisasi
Sistem saraf vertebrata secara
struktural dan fungsional beragam. Sebagai contoh, korteks serebral pada otak
lumba-lumba struktural lebih kompleks dan merupakan prosesor informasi yang
jauh lebih ampuh dibandingkan dengan korteks serebral ikan atau katak. Namun
semua sistem saraf vertebrata mempunyai beberapa kemiripan mendasar yaitu
adanya unsur pusat dan tepi yang jelas dan derajat sefalisasi yang tinggi. Otak
dan sum-sum tulang belakang vertebrata menyusun SSP. Otak menyediakan kemampuan
integratif yang mendasari perilaku kompleks yang khas pada vertebrata. Sum-sum
tulang belakang (tali spinal), yang membentang sepanjang tulang belakang, atau
spinal, mengintegrasikan respon yang sederhana terhadap stimulus tertentu dan
mengirimkan informasi ke otak (Campbell,2000:218)
Akson didalam SSP berlokasi pada
saluran tertentu yang selubung mielinnya memberikan penampakan keputih-putihan.
Bahan putih (white matter) ini secara jelas dapat dibedakan dari bahan abu-abu
(gray matter) (terutama badan sel saraf, dendrit dan akson yang tidak
bermielin) dalam sayatan melintang otak dan sum-sum tulang belakang. Sistem
saraf pusat vertebrata berasal dari tali saraf berlubang dorsal salah satu ciri
khusus filogenetik kordata serta otak maupun sum-sum tulang belakang mempunyai
ruangan yang penuh dengan cairan.saluran tengah (central canal) yang sempit
pada sum-sum tulang belakang berhubungan langsung dengan ruangan yang penuh
cairan yang disebut ventrikel, di otak. Rongga ini berisi cairan serebrospinal
(cerebrospinal fluid), yang terbentuk dalam otak melalui filtrasi darah. Cairan
serebrospinal besirkulasi melalui saluran tengah dan ventrikel, kemudian
kembali ke venna untuk mengirimkan nutrien,hormon, dan sel-sel darah putih
dengan menembus sawar (rintangan) antara darah dan otak menuju bagian otak yang
berbeda. Fungsi cairan serebrospianal yang paling penting adalah bertindak
sebagai bantalan otak yang meredam guncangan. Otak dan sum-sum tulang belakang
juga dilindungi oleh lapisan jaringan ikat yang disebut meningis. Pada mamalia,
cairan serebrospinal bersirkulasi diantara dua meningis, yang memberikan
bantalan tambahan bagi otak (Campbell,2000:218)
b.
Sistem
Saraf Tepi
Secara struktural sistem saraf tepi
vertebrata terdiri atas saraf kranial dan saraf spinal yang berpasangan serta
ganglia. Saraf kranial (cranial nerve) berasal dari otak yang menginervasi
organ kepala dan tubuh bagian atas. Saraf spinal (spinal nerve) berasal dari
sum-sum tulang belakang dan menginervasi ke seluruh tubuh. Mamalia mempunyai
dua belas pasang saraf kranial yang tiga puluh satu saraf spinal. Sebagian
besar saraf kranial dan semua saraf spinal mengandung neuron sensoris maupun
neuron motoris;beberapa saraf kranial hanya memiliki neuron saraf (saraf
olfaktoris dan saraf optik) (Campbell,2000:219)
Karena pengaturan yang kompleks
dari neuron sensoris dan neuron motoris pada saraf kranial dan saraf spinal
vertebrata, maka akan lebih mudah untuk membagi sistem saraf tepi menjadi
hirarki komponen yang berbeda fungsi. Divisi sensoris (sensory division) sistem
saraf tepi tersusun atas neuron sensoris atau neuron aferen yang mengirimkan
informasi dari reseptor sensoris ke sistem saraf pusat yang memonitor
lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Divisi motoris tersusun atas
neuron eferen yang mengirimkan sinyal dari sistem saraf pusat ke sel efektor.
Sistem saraf somatik pada divisi motoris membawa sinyal ke otot rangka terutama
sebagai respon terhadap rangsangan eksternal. Sistem saraf somatik seringkali
dianggap sebagai saraf sadar karena sistem ini mengikuti kontrol sadar, akan
tetapi sebagian besar pergerakan otot rangka sebenarnya ditentukan oleh refleks
yang di perantarai oleh sumsumtulang belakang atau otak bagian bawah. Sistem
saraf otonom pada divisi motoris mengirimkan sinyal yang mengatur lingkungan
internal dengan cara mengontrol otot polos dan otot jantung serta organ-organ
sistem pencernaan, kardiovaskuler, ekskresi dan endokrin. Kontrol ini umumnya
dibawah kesadaran (Campbell, 2000:219).
Sistem saraf otonom terdiri atas
dua subdivisi yang secara anatomis, fisiologi dan kimiawi dapat dibedakan,
yaitu divisi simpatik dan divisi parasimpatik. Ketika saraf simpatik dan parasimpatik
menginervasi organ yang sama, keduanya sering (akan tetapi tidak selalu)
mempunyai pengaruh yang antagonistik. Umumnya, sinyal yang dibawa melalui
parasimpatik meningkatkan aktivitas yang menghemat energi seperti pencernaan
dan perlambatan denyut jantung. Sebaliknya sinyal yang dikirimkan oleh divisi
simpatik umumnya meningkatkan konsumsi energi dan mempersiapkan individu untuk
beraktivitas dengan cara mempercepat denyut jantung, meningkatkan laju
metabolisme, dan melakukan fungsi-fungsi yang berkaitan (Campbell, 2000:219).
Sistem saraf somatik dan otonom
sering kali bekerja sama untuk memelihara keseimbangan fungsi sistem organ yang
penting dalam hemoistasi. Sebagai respon terhadap penurunan suhu,hipotalamus
akan mengirimkan sinyal sistem saraf otonom unuk menyempitkan pembuluh darah
permukaan, yang akan mengurangi kehilangan panas, pada saat yang sama hipotalamus
akan mengirimkan sinyal ke sistem saraf somatik dan menyebabkan respon
menggigil (Campbell, 2004:219).

Gambar 2 : Sistem Saraf Invertebrata
danVertebrata
B. Klasifikasi Sistem Saraf
Berdasarkan Struktur dan Fungsi
1.
Sistem
Saraf Berdasarkan Struktur
a.
Neuron
Unipolar
Neuron unipolar merupakan neuron
yang hanya memiliki satu tonjolan keluar dari badan sel, yang dianggap sebagai
akson.
b.
Neuron
Bipolar
Neuron bipolar adalah neuron yang
memiliki dua tonjolan keluar dari badan sel, satu sebagai dendrit dan yang
satunya sebagai akson.
c.
Neuron
Multipolar
Neuron multipolar adalah neuron
yang memiliki banyak tonjolan yang keluar dari badan sel. Beberapa tonjolan
sebagai dendrit dab hanya satu tonjolan yang menjadi akson (Soewolo,
1997:247-248).
Gambar 3 : Klasifikasi Saraf
Berdasarkan Strukturnya
2.
Sistem
Saraf Berdasarkan Fungsi
Berdasarkan fungsinya sel saraf
dibagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut :
a.
Neuron
Aferen
Neuron aferen berbeda bentuknya
dengan neuron eferen dan saraf penghubung. Neuron aferon merupakan jenis neuron
unipolar. Pada ujung perifernya, suatu neuron aferen memiliki suatu reseptor,
badan selnya berdekatan dengan medula spinalis dan ujung aksonnya
bercabang-cabang dan bersinapsis dengan saraf penghubung yang berada dalam
sistem saraf pusat.
b.
Neuron
Eferen
Neuron eferen memiliki badan sel
yang berada dalam sistem saraf pusat. Aksonnya meninggalkan sistem saraf pusat
menuju ke otot atau kelenjar. Neuron eferen umumnya merupakan jenis neuron
multipolar.
c.
Saraf
Penghubung (Interneuron)
Neuron penghubung terletak
seluruhnya di dalam sistem saraf pusat dan merupakan jenis neuron multipolar.
Saraf penghubung memiliki 2 fungsi utama yaitu sebagai pengintegrasi respon
periferal ke informasi periferal dan melalui saraf penghubung yang lain
meneruskan informasi ke otak (Soewolo, 1997 : 248).
C. Hubungan Fungsional antara Komponen
Sistem Saraf
D. Rangkaian Neuron
Hubungan antar neuron dapat dibedakan
menjadi dua macam yaitu, sebagai berikut :
1.
Hubungan
Konvergen
Hubungan konvergen terjadi bila
satu neuron menerima sinapsis dari banyak neuron lainnya. Melalui hubungan
konvergen ini satu neuron tunggal dapat dipengaruhi oleh ratusan neuron yang
lainnya.
2.
Hubungan
Divergen
Hubungan divergen terjadi bila satu
neuron tunggal, ujung aksonnya bersinapsis dengan banyak neuron lain yang lain.
E. Mekanisme Perambatan Rangsangan
pada Gerak Biasa dan Gerak Reflek
1.
Mekanisme
Perambatan Rangsangan pada Gerak Biasa
Impuls pada gerak sadar melalui
jalan panjang, yaitu reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk
selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan otak berupa tanggapan,
dibawa oleh saraf motorik sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor
(Ika Puspita, 2009:209).
Gambar 5 : Gerak Biasa
2.
Mekanisme
Perambatan Rangsangan pada Gerak Reflek
Merupakan
suatu gerakan yang terjadi secara tiba-tiba diluar kesadaran kita. Refleks
fleksor, penarikan kembali tangan secara refleks dari rangsangan yang
berbahaya, merupakan suatu perlindungan. Refleks ekstensor (polisinaps),
rangsangan dari reseptor perifer yang mulai dari fleksi pada anggota badan dan
juga berkaitan dengan ekstensi anggota badan. Gerak refleks merupakan bagian
dari mekanisme pertahanan pada tubuh dan terjadi jauh lebih cepat dari gerak
sadar. Misalnya menutup mata pada saat terkena debu (Syaifuddin,2006;291-292).
Untuk terjadinya gerak
refleks maka dibutuhkan struktur sebgai berikut: organ sensorik yang menerima
impuls misalnya kulit. Serabut saraf sensorik yang menghantarkan impuls
tersebut menuju sel-sel ganglion radiks posterior dan selanjutnya serabut
sel-sel akan meneruskan impuls-impuls menuju substansi pada kornu posterior
medula spinalis. Sum-sum tulang belakang menghubungkan antara impuls menuju
kornu anterior medula spinalis. Sel saraf motorik menerima impuls dan
menghantar impuls-impuls ini melalui serabut motorik (Syaifuddin,2006:292).
Kegiatan sistem saraf
pusat ditampilkan dalam bentuk kegiatan refleks. Refleks adalah respon yang
tidak berubah terhadap rangsangan yang terjadi diluar kehendak. Rangsangan ini
merupakan reaksi organisme terhadap perubahan lingkungan baik didalam maupun
diluar organisme yang melibatkan sistem saraf pusat dalam memberikan jembatan
(respon) terhadap rangsangan. Refleks dapat berupa peningkatan maupun penurunan
kegiatan misalnya kontraksi atau relaksasi otot, kontraksi atau dilatasi pembuluh
darah. Dengan adanya kegiatan refleks, tubuh mampu mengadakan reaksi yang cepat
terhadap berbagai perubahan diluar maupun didalam tubuh disertai adaptasi
terhadap perubahan tersebut. Dengan demikian seberapa besar peran sistem saraf
pusat dapat mengatur kehidupan organisme (Syaifuddin,2006:292).
a.
Lengkung
Refleks
Proses
yang terjadi pada refleks melalui jalan tertentu disebut lengkung refleks.
Komponen-komponen yang dilalui refleks:
1) Reseptor
rangsangan sensoris yang peka terhadap suatu rangsangan misalnya kulit.
2) Neuron
aferen (sensoris) yang dapat menghantarkan impuls menuju ke susunan saraf pusat
(medula spinalis-batang otak)
3) Pusat
saraf (pusat sinaps) tempat integrasi masuknya sensoris dan dianalisis kembali
ke neuron eferen.
4) Neuron
eferen (motorik) menghantarkan impuls ke perifer.
5) Alat
efektor merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh suatu serat otot
atau kelenjar.
Reseptor
adalah suatu struktur khusus yang peka terhadap suatu bentuk energi tertentu
dan dapat mengubah bentuk energi menjadi aksi-aksi potensial listrik atau
impuls-impuls saraf. Efektor, percabangan akhir serat-serat eferen (motorik)
didalam otot serat lintang, otot polos dan kelenjar (alat efektor).
Refleks
dapat dikelompokkan menjadi dalam berbagai tujuan, refleks dikelompokkkan
berdasarkan:
a) Letak
reseptor yang menerima rangsangan:
·
Refleks ekstroseptif, timbul karena
rangsangan pada reseptor permukaan tubuh
·
Refleks interoreseptif (viseroreseptif)
timbul karena rangsangan pada alat-alat dalam atau pembukuh darah misalnya dinding
kandung kemih dan lambung
·
Refleks proreseptif, timbul karena
rangsangan pada reseptor otot rangka, tendon, dan sendi untuk keseimbangan
sikap
b) Bagian
saraf pusat yang terlibat:
·
Refleks spinal melibatkan neuron di
medula spinalis
·
Refleks bulbar, melobatkan neuron di
medula oblongata
·
Refleks kortikal, melibatkan neuron
korteks serebri. Sering terjadi refleks yang melibatkan berbagai bagian pada
saraf pusat.
c) Jenis
atau ciri jawaban
·
Refleks motorik, efektornya berupa otot
dengan jawaban berupa relaksasi atau kontraksi otot
·
Refleks sekretorik, efektornya berupa
pembuluh darah dengan jawaban berupa peningkatan/ penurunan sekresi kelenjar
·
Refleks vasomotor, efektornya berupa
pembuluh darah dengan jawaban berupa fasodilatasi/fasokontriksi
d) Timbulnya
refleks. Refleks telah timbul sejak lahir dan ada juga muncul setelah memenuhi
persyarafan yang diperlukan dan refleks yang terakhir didapat selama makhluk
berkembang berupa pengalaman hidup. Berdasarkan hal tersebut diatas refleks
dibagi dalam:
·
Refleks tidak bersyarat, refleks yang
dibawa sejak lahir, bersifat mantap tidak pernah berubah, dan dapat ditimbulkan
bila ada rangsangan yang cocok misalnya mengisap jari pada bayi
·
Refleks bersyarat, didapat selama
pertumbuhan berdasarkan pengalaman hidup, memerlukan proses belajar.
e) Jumlah
neuron yang terlibat:
·
Refleks monosinaps melalui satu sinaps
dan dua neuron (satu neuron aferen, satu neuron eferen) yang langsung
berhubungan pada saraf pusat. Contohnya refleks regang.
·
Refleks polisinaps melalui beberapa
sianaps, terdapat beberapa inter neuron yang menghubungkan neuron aferen, semua
refleks lebih dari satu sinaps kecuali refleks regang otot (Syaifuddin,2006:293-294).
b.
Waktu
Refleks
Waktu
refleks ini ditentukan oleh perlambatan pusat yang dialami terutama bila
melalui sinaps, gangguan pada masing-masing bagian lengkung refleks dapat
mempengaruhi waktu refleks. Sering terjadi jawaban refleks terus berlangsung
meskipun rangsangan sudah lama dihentikan. Hal ini kerena adanya susunan
hubungan neuron berupa rantai tertutup atau terbuka impuls yang berputar-putar
antar neuron tersebut, meskipun rangsangan sudah dihentikan serat aferen terus
mendapat rangsangan dari interneuron sehingga menyebabkan jawaban refleks akan
tetap terjadi (Syaifuddin,2006:294).
c.
Kekuatan
Refleks
Bila
diberikan kekuatan yang lebih besar maka lebih banyak reseptor yang terlihat.
Bila lebih banyak serat aferen yang meneruskan ke saraf pusat akan lebih banyak
serat eferen terlihat meneruskan kegiatan efektor yang akan mengakibatkan
peningkatan jawaban efektor (Syaifuddin,2006:295).
F. Konsep dan Mekanisme Gerak Reflek
Monosinaptik, Multisinaptik, Sederhana dan Dikondisikan
1.
Konsep
dan Mekanisme Gerak Reflek Monosinaptik
Gerak reflek monosinaptik melalui
satu sinaps dan dua neuron (satu neuron
aferen dan satu neuorn eferen) yang langsung berhubungan dengan pada saraf
pusat. Contohnya yaitu reflek regang (Syaifuddin,2006:294).
Refleks regang dapat di bagi dua
yaitu refleks regang dinamik dan refleks regang statik. Reflek regang dinamik
dicetuskan oleh sinyak dinamik yang kuat, yang dikirimkan dari ujung sendorik
primer kumparan otot akibat regangan atau pemampatan yang berlangsung cepat.
Refleks regang dinamik berkahir dalam waktu kurang satu detik sesudah otot
diregang hingga mencapai panjangnya yang baru, namun kemudian akan dilanjutkan
oleh refleks regang statik yang lebih lemah dalam waktu yang lama. Fungsi utama
refleks regang adalah kemampuannya untuk mencegah gerakan tubuh yang bergoyang
atau menyentak-nyentak (Guyton,2014:709).
Gambar 6 : Gerak Reflek Monosinaptik
2.
Konsep
dan Mekanisme Gerak Reflek Multisinaptik
Sebagian besar refleks adalah
refleks polisinaptik atau multisinaptik. Refleks ini mengandung paling
sedikit tiga neuron dan dua sinaps dengan satu interneuron
(neuron penghubung) diantara neuron sensorik dan motorik (Ethel,2004: 165).
Contohnya yaitu gerak refleks
sentakan atau refleks fleksor yaitu yang terjadi akibat stimulus nyeri,
bersifat melindungi dan berlangsung dalam tubuh sama banyaknya dengan refleks
perengangan6(Ethel,2004: 165).
Gambar 7 : Gerak Reflek Multisinaptik
G. Perbedaan Jalur Kerja Saraf Otonom
dengan Saraf Somatik, dan Saraf Simpatik dan Saraf Parasimpatik.
1.
Jalur
Kerja Saraf Otonom Dengan Saraf Somatik
a. Saraf
Otonom
Sistem saraf otonom bergantung pada
sistem saraf pusat, dan antara keduanya dihubungkan urat-urat saraf aferen dan
eferen. Juga memiliki seolah-olah sebagai bagian sistem saraf pusat, yang telah
bermigrasi dari saraf pusat guna mencapai kelenjar, pembuluh darah, jantung,
paru-paru, dan usus. Karena sistem saraf otonom itu terutama berkenaan dengan
pengendalian organ-organ dalam secara tidak sadar, kadang-kadang disebut juga
susunan saraf tidak sadar (Pearce, 2013:370).
Menurut fungsinya susunan saraf
otonom terdiri 2 bagian yaitu diantaranya :
a) Sistem
saraf simpatis yang terletak didepan columna vertebra dan berhubungan serta
bersambung dengan sumsum tulang belakang melalui serabut-serabut saraf.
b) Sistem
parasimpatis yang terbagi dalam dua bagian yang terdiri atas saraf otonom
kranial dan saraf otonom sakral (Pearce, 2013:370 ).
b. Saraf
Somatik
Kemampuan
seseorang untuk mendiagnosis berbagai penaykit beragantung pada pengetahuan
mengenai berbagai sifat nyeri, bagaimana nyeri dapat dialihkan dari suatu
bagian tubuh yang lain. Nyeri adalah suatu mekanisme proktektif bagi tubuh yang
timbul bilamana jaringan sedang rusak yang
menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut
(Syaifuddin,2006:307 ).
Reseptor
nyeri didalam kulit dan jaringan merupakan ujung saraf bebas yang tersebar luas
dalam lapisan superfisial kulit dan jaringan tertentu tidak dipersarafi secara
luas dengan ujung nyeri, tetapi mendapatkan persarafan yang lemah. Setiap
kerusakan jaringan yang tersebar luas menyebabkan pegal daerah ini.
Perangsangan sangat ringan pada ujung saraf nyeri, bila dihambat dengan
anestesi atau dengan menekan saraf, fenomena geli atau gatal akan lenyap.
Sensasi gatal dapat dibangkitkan melalui refleks menggaruk dan berkurangnya
gatal bisa terjadi dengan proses menggaruk hanya bila pengganggu disingkirkan
(Syaifuddin,2006: 307).
Gambar 8 : Jalur Saraf Otonom Dan
Somatik
2.
Jalur
Kerja Saraf Simpatik Dengan Saraf Parasimpatik
a.
Saraf
Simpatik
Saraf ini terletak didepan columna
vertebra dan berhubungan dengan sumsum tulang belakang melalui serabut-serabut
saraf. Saraf simpatis terdiri dari 3 bagian yaitu :
1) Kornu
anterior segmen torakalis ke-1 sampai ke-12 dan segmen lumbalis 1-3 terdapat
nukleus vegetatif yang berisi kumpulan-kumpulan sel saraf simpatis. Sel saraf
simpatis ini mempunyai serabut-serabut preganglion yang eluar dari kornu
anterior bersama-sama dengan radiks anterior dan nukleus spinalis. Setelah
keluar dari foramen intevertebralis, seabut-serabut preganglion ini segera
memusnahkan diri dari nukleus spinalis dan masuk ke trunks simpatis serabut.
Serabut preganglion ini membentuk sinaps terhadap sel-sel simpatis yang ada
didalam trunkus simpatikus. Tetapi ada pula serabut-serabut preganglion setelah
berada didalam trunkus simpatikus terus keluar lagi dengan terlebih dahulu
membentuk sinaps menuju ganglion-ganglion/pleksus simpatikus.
2) Trunkus
simpatikus beserta cabang-cabangnya. Disebelah kiri dan kanan vertebra terdapat
barisan ganglion saraf simpatikus yang membujur disepanjang vertebra. Barisan
ganglion-ganglion saraf simpatikus ini disebut trunkus simpatikus. Ganglion-ganglion
ini berasal dari sel saraf simpatis. Antara ganglion satu dengan lainnya, atas,
bawah, kiri dan kanan dihubungkan oleh saraf simpatis yang keluar masuk kedalam
ganglion-ganglion itu. Hal ini
menyebabkan sepasang trunkus simpatikus membentuk rongga. Ganglion-ganglion
yang terdapat didalam trunkus juga menerima serabut-serabut saraf yang datang
dari kornu anterior. Trunkus simpatikus dibagi menjadi 4 yaitu :
·
Trunkus simpatikus servikalis. Terdiri
dari tiga pasang ganglion. Dari ganglion-ganglion ini keluar cabang-cabang
saraf simpatis yang meuju ke jantung dan dari arteri karotis. Disekitar arteri
karotis membentuk pleksus. Dari pleksus ini keluar cabang-cabang yang menuju
keatas cabang lain mempersarafi pembuluh darah serta organ-organ yang terletak
dikepala. Misalnya faring, kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, otot-otot
dilatator, pupil mata dan sebagainya.
·
Trunkus simpatikus torakalis. Terdiri
dari 10-11 ganglion, dari ganglion ini keluar cabang-cabang simpatis seperti
cabang yang mensarafi organ-organ didalam toraks (aorta, paru-paru, bronkus,
esofagus dll). Dan cabang-cabang yang menembus diafragma dan masuk kedalam
abdomen. Cabang ini dalam rongga abdomen mensarafi organ-organ didalamnya.
·
Trunkus simpatiskus lumbalis.
Bercabang-cabang menuju kedalam abdomen, juga ikut membentuk pleksus solare
yang bercabang-cabang kedalam pelvis untuk turut membentuk pleksus pelvini.
·
Trunkus simpatikus pelvis.
Bercabang-cabang kedalam pelvis untuk turut membentuk pleksus pelvini.
3) Peleksus
simpatikus beserta cabang-cabangnya. Didalam abdomen, pelvis, toraks serta
didekat organ-organ yang dipersarafi oleh saraf simpatis (otonom). Umumnya
terdapat pleksus-pleksus yang dibentuk oleh saraf simpatis/ganglion yaitu
pleksus/ganglion simpatikus.
Juga
terdapat sel-sel saraf simpatikus yang serabut-serabutnya akan keluar dari
pleksus itu untuk mensarafi organ-organ didalam tubuh. Pleksus serabut
simpatikus mempersarafi otot-otot jantung, otot tak sadar dan semua pembuluh
darah serta alat-alat dalam seperti lambung, pankreas dan usus dan
mempertahankan semua otot, termasuk tonus otot sadar, melayani serabut motorik
pada otot tak sadar dalam kulit(erektor pilli) (Syaifuddin, 2006 hal 303-305).
Ganglion
lainnya (simpatis) berhubungan dengan rangkaian dua ganglion besar ini bersama
serabutnya membentuk pleksus-pleksus simpatis :
a. Pleksus
kardio, terletak disebelah dekat dasar jantung serta mengarahkan cabangnya
kedaerah tersebut dan paru-paru
b. pleksus
seliaka, terletak disebelah belakang lambung dan mempersarafi organ-organ dalam
rangka abdomen.
c. Pleksus
mesentrikus (pleksus higratikus)dan terletak depan sakrum mencapai organ-organ
dalam pelvis (Syaifuddin, 2006: 303-305).
b.
Saraf
Parasimpatik
d. Saraf
kranial otonom adalah saraf kranial ketiga, ketujuh, kesembilan dan kesepuluh.
Saraf-saraf ini merupakan penghubung, tempat serabut-serabut parasimpatik lewat
dalam perjalanannya keluar dari otak menuju organ-organ yang sebagian
dikendalikan olehnya. Serabut yang mencapai serabut-serabut otot sirkular pada
iris merangsang gerakan-gerakan yang menentukan ukutran pupil mata menggunakan
saraf kranial, yaitu saraf okulo motorik (Syaifuddin, 2006: 306).
e. Serabut-serabut
otot motorik sekretorik mencapai kelenjar ludah melalui saraf ketujuh, fasial,
serta saraf kesembilan, glosofaingeus. Saraf vagus atau saraf kranial kesepuluh
adalah serabut saraf otonom terbesar. Daerah layanannya luas, serta
serabut-serabutnya disebarkan kesejumlah besar kelenjar. Penyebaran ini sejalan
dengan penyebaran serabut simpatis. Saraf parasimpatik sakral keluar dari sumsum
tulang belakang melalui daerah sakral. Saraf – saraf ini membentuk urat-urat
saraf pada alat-alat dalam pelvis, dan bersama saraf simpatis membentuk pleksus
yang melayani koloni, rektum, dan kandung kencing(Syaifuddin, 2006: 306).
Gambar
9 : Saraf Simpatik dan Parasimpatik
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sistem
saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan
rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf
terdiri dari jutaan sel saraf ( neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan
pesan (impuls) yang berupa rangsangan atau tanggapan.
Sistem
saraf dibagi menjadi dua, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer.
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf
perifer terdiri dari sistem saraf sadar dan saraf tia sadar.
B. SARAN
Agar
pembaca lebih memahami materi sirkulasi ini, pembaca disarankan membaca salah
satu literature dari makalah ini, yaitu pada buku pengantar Fisiologi
Hewan yang ditulis oleh Drs. Suwolo
M.Pd.







Saya hadir Buk -Rifara Suci Yulika
ReplyDeleteok rifara
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteHadir buj
ReplyDeleteSaya hadir
ReplyDeleteSaya Hdir buk -Reni Mustika
ReplyDeletesaya hadir buk -Nila silvia
ReplyDeleteSaya hadir buk-Yesi Nia Safarani
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDeletehadir buk
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDeleteOk buk
ReplyDeleteokeh buk
ReplyDeleteHadir buk
ReplyDeletesaya hadir
ReplyDeletehadir buk
ReplyDeletehadir buk
ReplyDelete